Tuesday, September 23, 2008

when the sun (almost) leaving sunflower

bagi sunflower matahari adalah segalanya (tentu, di bawah ALLAH SANG MAHA PENCIPTA SEGALA)...

pada suatu ketika, sunflower membuat berang sang matahari...
matahari yang kecewa memutuskan untuk berpaling dan mengabaikan sunflower....
sunflower menggigil kedinginan, ketakutan dalam gulita dunianya sendirian...
ia senantiasa merindukan matahari

keheningan matahari terasa begitu mencekam...."matahari yang menolak bicara adalah suatu pertanda buruk", batin sunflower yang merana

hari demi hari, sunflower semakin ringkih dalam kelayuannya....
terombang-ambing dalam lautan kegalauan menanti vonis sang matahari...

dan itu dia...
matahari memutuskan meninggalkan dunia sunflower dan berpetualang ke galaksi lain

tak urung sunflower menangis... meneteskan sisa-sisa kehidupan dalam dirinya...
tetapi sunflower keras kepala... ketika ia memutuskan siapa mataharinya, saat itulah ia akan mencurahkan sepenuh rasa kepada sang pujaan... tanpa kompromi...

sunflower mengejar matahari....
berdoa sekuat tenaga agar semuanya kembali baik-baik saja

sunflower yang telah tiba di peraduan matahari
betapa pilu hatinya mendapati matahari yang dingin...
ia merindukan mataharinya yang hangat, yang selama ini menyinarinya

matahari yang lelah
mendadak sunflower dikuasai keinginan yang sangat kuat untuk merengkuh matahari ke dalam pelukannya... dan membuainya hingga ia terlelap...
betapa ia luar biasa sayang dengan makhluk ini....

matahari yang terluka
sunflower berbisik dalam relung hatinya,
"sungguh, aku tak pernah ingin menyakiti dan mengecewakanmu....
sungguh, aku ingin membahagiakanmu..... maafkan aku yang bodoh ini... maafkan aku..."

bersyukurlah matahari masih sudi bersinar di bumi
dan senyum sunflower merekah kembali....

dalam kesunyian malam, sunflower berdoa,
semoga saat ia bangun esok pagi, ia kembali dapat memandang wajah matahari...
selamanya...
hingga akhir hayatnya...






Teruntuk matahariku matahari,

Baca Selengkapnya...

Friday, September 19, 2008

Ingin Kukatakan Kepadamu

Berikan padaku air
Ia akan menjadi pelepas dahaga dan bertumbuhlah tunas-tunas kehidupan
Sebagaimana ia adanya

Berikan padaku udara
Ia akan menjadi aliran nafas kehidupan dan menerbangkan sayap-sayap yang rapuh
Sebagaimana ia adanya

Berikan padaku tanah
Ia akan menjadi tempat berpijak dan mengakarlah peradaban
Sebagaimana ia adanya

Berikan padaku cahaya
Ia akan menjadi penerang bagi yang gulita dan menghidupkan alam raya
Sebagaimana ia adanya

Berikan padaku cinta
Ia akan bertahta dalam singgasana teristimewa dan tersenyumlah semesta
Sebagaimana ia adanya



Teruntuk air, udara,tanah, dan cahayaku….
Love you always Baca Selengkapnya...

Tuesday, September 9, 2008

Sudah Saatnya Kembali

Aku merasa kering
Entahlah, bisa jadi hanya keluhan si pemalas seperti biasa
Seperti pena macet yang tintanya menggumpal karena lama dipingit dalam rak berdebu
Seringkali ia menyalahkan nasib
Ia merasa dipermainkan dalam ritme yang katanya tak mampu ia lawan
Yah, selalu begitu bukan…
Jika kau sendiri tak berusaha menstimulus nya…
Otot-otot yang kian mengecil karena berdiam terlalu lama
Syaraf-syaraf yang kaku
Hingga yang paling mengerikan adalah saat istana dongengmu runtuh
Dan peri-peri pun mati
Itulah akhir segalanya Baca Selengkapnya...

Sunday, September 7, 2008

THIS IS WHAT LOVE IS……

Aku iba padamu, Juliet. Kau tidak tahu apa itu cinta. Kau tidak tahu sama sekali,” teriak Will, suaranya menggema keras di dinding bata, ”Kau mengira cinta hanya tentang hari Valentine dan akhir pekan di Italia. Kau mengira itu hanya minum sampanye di restoran mewah dan dibelikan pakaian dalam mahal tolol.” mata Will bengkak karena menangis dan dia bersusah payah mengendalikan diri agar tidak hancur berantakan. ”tapi itu hanya pelengkap. Itu hanya ungkapan.” Will berhenti dan menarik napas dalam-dalam beberapa kali, berusaha menenangkan diri. Saat dia berbicara lagi, suaranya lebih tenang. ”Tanpa rasa percaya, hormat, dan kebaikan tidak artinya.” Will menyibak rambutnya dengan kasar dan menatap Juliet tajam. ”kukira cinta adalah menyayangi seseorang hari demi hari, berada bersamanya saat keadaan luar biasa menyenangkan, dan tetap ingin bersama saat keadaan sungguh payah, kukira cinta berarti selamanya.”

Minggu lalu saat di taman, Trudy mengatakan banyak hal yang tidak ingin didengar Juliet. Tapi setelah memiliki waktu untuk memikirkan kata-katanya, Juliet harus mengakui temannya itu mengatakan banyak kebenaran. Situasi antara Will dan dia tidak sempurna. Jauh dari itu. Mereka sudah tidak tinggal dalam dunia berona merah muda. Yang tinggal hanya bertengkar, merajuk, saling membenci, dan untuk waktu lama Juliet merasa tidak dihargai seperti seharusnya. Tapii setelah Will pergi, Juliet baru menyadari betapa dia juga tidak menghargai Will. Menyadari betapa salahnya dia.

Bukan hanya tindakan romantis besar yang membentuk sebuah hubungan, tapi justru hal-hal kecil. Will tersenyum padanya tanpa alasan, saling menatap tanpa perlu penjelasan, menumpangkan kakinya di atas kaki Juliet yang sedingin es untuk menghangatkannya saat mereka di ranjang. Juga seperti saat Will menyisihkan buah-buah zaitun dari pizzanya karena dia tahu itu favorit Juliet, berpura-pura tidak melihat jerawat merah raksasa yang mencuat di dagu Juliet semalam, tidak mengatakan apa-apa dan memeluk Juliet tanpa alasan saat dia sedang PMS dan judes. Hal-hal kecil. Hal-hal penting. Hal-hal romantis yang sesungguhnya. Tapi hal kecil yang Juliet miliki sekarang hanyalah suara dalam kepalanya yang berbisik terlambat, terlambat, terlambat. Baca Selengkapnya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...