Friday, October 8, 2010

A Story from My Favorite Book of All Time

Ini adalah salah satu cerpen dari buku favoritku sepanjang masa: Pernikahan Kakakku (kumpulan cerpen klasik dari berbagai belahan dunia). Sebenarnya sih cerita ini bukan yang paling aku suka - Well, tentu saja aku terkesan dengan semua cerpen di dalamnya, hanya saja, kau tahu, pasti ada yang paling dari semuanya - karena sukar sekali mendapatkan kepingannya saja sekalipun di koleksi literaturnya Mbah Google *hmm, ga selengkap yang kubayangkan* fikir. Bahkan mau majang gambar covernya di postingan ini aja ga nemu. Dan untuk mengetik ulang cerita-cerita indah itu sehingga bisa membagikannya disini....hmm, the mood is still hidden somewhere sengihnampakgigi. Jadilah Pelageya ini satu-satunya kepingan harta karun yang bisa ku bagikan saat ini.




Pelageya
(Mikhael Zoschenko)

Pelageya adalah seorang wanita buta huruf. Ia bahkan tidak bisa menuliskan namanya sendiri.
Meskipun begitu, suami Pelageya adalah seorang pejabat Sovyet yang bertanggung jawab. Sekalipun dahulu ia cuma seorang petani biasa, lima tahun hidup di kota telah mengajarkan banyak kepadanya. Tidak hanya bagaimana cara menulis namanya, tetapi juga hal yang lainnya. Dan ia merasa sangat malu mempunyai seorang istri yang buta huruf.

"Engkau, Pelageyushka, mesti belajar, paling tidak menulis namamu sendiri." Begitu yang biasa ia ucapkan pada Pelageya. "Nama belakangku, kan, cukup mudah. Cuma dua suku kata Kuch-kin, dan engkau belum juga bisa menuliskannya. Sungguh keterlaluan."

Biasanya Pelageya mengelak. "Tak ada lagi gunanya buatku untuk belajar sekarang, Ivan Nikolaevich." Pasti demikian jawabnya. "Aku sudah mulai tua. Jari-jari tanganku sudah mulai kaku. Buat apa aku belajar menulis huruf-huruf sekarang. Biar saja yang muda-muda yang belajar. Aku ingin menjadi tua sebagaimana adanya."

Suami Pelageya adalah orang yang sangat sibuk dan tidak bisa membuang waktu terlalu banyak untuk istrinya. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, seakan berkata, "Oh, Pelageya, Pelageya!" Namun tak diucapkannya kata-kata itu.

***


Pada suatu hari Ivan Nikolaevich membawa pulang sebuah buku kecil yang istimewa.
"Ini, Polya," katanya, "adalah buku untuk belajar sendiri keluaran terbaru, yang dibuat atas dasar metode-metode paling mutakhir. Aku sendiri yang akan menjadi gurumu."
Pelageya tertawa saja, menerima buku itu, membuka-bukanya, dan menyimpannya di balik rak dapur, seperti hendak mengatakan , "Biarkan saja di situ. Mungkin anak cucu kita akan memerlukannya kelak."

***


Pada suatu hari Pelageya sedang duduk bekerja. Ia harus menambal mantel milik suaminya. bagian lengannya terkoyak. Pelageya duduk di dekat meja. Ia mengambil jarum jahitnya. Diletakkannya tangannya di bawah mantel dan didengarnya sesuatu yang bunyi berkerisik.
Mungkin ada uangnya, pikir Pelageya.
Ia mencari-cari dan menemukan sepucuk surat. Sebuah surat yang apik, dengan amplop yang bersih, tulisan tangan yang baik, dengan kertas yang berbau parfum atau eau de cologne.

Jantung Pelageya berdetak keras.
Mungkinkan Ivan Nikolaevich serong? pikirnya. Mungkinkan ia bertukar surat cinta dengan nyonya-nyonya berpendidikan tinggi dan menertawakan istrinya yng miskin, bodoh dan buta huruf?
Pelageya menatap amplop itu, mengeluarkan isinya dan membuka lipatannya. Tetapi karena ia buta huruf tak dapat diartikanya sepatah kata pun.

Untuk pertama kali dalam hidupnya Pelageya menyesal karena tidak dapat membaca.
Meskipun itu mungkin surat orang lain, pikirnya, aku tetap harus mengetahui apa isinya. Seluruh hidupku mungkin bisa berubah karenannya, dan lebih baik aku kembali saja ke desa menjadi petani lagi.
Pelageya mulai menangis dan merasa bahwa Ivan Nikolaevich kelihatan berubah akhir-akhir ini ia tampak lebih memberi perhatian pada kumisnya dan lebih sering mencuci tangannya.

Pelageya duduk memandangi surat itu dan terisak-isak seperti seekor babi yang kena perangkap. Namun, tak dapat dibacanya surat itu, dan kalau ia tunjukkan kepada orang lain, pasti akan memalukan.
Pelageya menyembunyikan surat itu di balik rak, menyelesaikan pekerjaannya, dan menunggu suaminya pulang.

***


Ketika suaminya datang Pelageya berpura-pura seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Malahan dengan nada suara kalem dan lembut ia berbicara dengan suaminya, bahkan memberi isyarat bahwa ia tidak keberatan untuk belajar sedikit dan bahwa ia telah jenuh menjadi petani yang bodoh dan buta huruf.

Ivan Nikolaevich sangat gembira mendengarnya. "Itu baru namanya baik," katanya, "Dan aku sendiri ayang akan mengajarimu."
"Boleh, silahkan," kata Pelageya, dan dengan tajam ditatapnya kumis Ivan Nikolaevich yang rapih dan melintang.

Selama dua bulan penuh Pelageya mempelajari bukunya setiap hari. Dengan telaten diuraikannya kata-kata ke dalam suku kata, dipelajarinya dengan menulis huruf-huruf, dan dihafalkannya kalimat-kalimat. Dan setiap sore dikeluarkannya surat berharga itu dari rak dan dicobanya menebak-nebak isinya yang misterius.
Tapi rupanya ini bukan pekerjaan yang mudah.

***


Baru pada bulan ketiga Pelageya menguasai ketrampilan tersebut.
Pada suatu pagi ketika Ivan Nikolaevich pergi bekerja, Pelageya mengambil surat dari rak dan mulai membacanya.
Sulit memang baginya membaca tulisan tangan yang kecil-kecil. Tetapi bau parfum yang samar-samar dari kertas surat tersebut membakar semangatnya. Surat itu ditujukan kepada Ivan Nikolaevich.
Pelageya membaca:

Kamerad Kuchkin Yth,

Kukirimkan buku yang kujanjikan kepadamu. Kurasa istrimu pasti mampu menguasai buku tebal ini dalam waktu dua atau tiga bulan. Berjanjilah padaku, Kamerad, bahwa engkau akan memaksanya untuk belajar. Terangkan kepadanya; buatlah supaya ia merasa betapa tidak enaknya menjadi seorang wanita petani yang buta huruf.
Dalam rangka merayakan ulang tahun Revolusi, kita sedang bergiat menghapus buta huruf di seluruh Republik dengan segala cara. Namun kadang-kadang, karena satu dan lain hal, kita melupakan orang yang dekat dengan kita sendiri.
Jangan lupa, Ivan Nikolaevich.

Salam
Maria Blokhina

Pelageya membaca surat itu sampai dua kali. Kemudian, sambil merapatkan bibirnya dengan sedih dan diam-diam merasa terhina, ia pun meneteskan air mata.


starstarstarstar




Dikutip dari Mikhael Zoschenko - Pelageya
Cerita Pendek Volume 3: Pernikahan kakakku dan cerita-cerita lainnya,
Penerbit Mitra Utama, 1993


5 comments:

bun9a5z said...

emmmm
jenk ajari yg jr qm pake shoutbox
gmna crnya ya hehe

merry go round said...

Waahh...baru baca cerita ini. Penasaran pengen baca cerita kesukaan Deacy nih jadinya :)

Sulae said...

Wkwkwkwkw kayanya rame tuh ceritanya... kok ndak bilang ada bukunya... pinjem dunk..... :D :D :D :D

Deacy said...

@ Mba rossa: nanti ya mba cerita selanjutnya, hehehehe....

@Sei: di banjar bukunya bos, belum teambil2.... :D :D

me said...

wah kehebatan "cemburu" bisa bikin giat belajar yah hehehe

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...