Here I am! Terdampar di taman Kantor Pusat universitas, menanti jam 1, untuk menyelesaikan urusan "kecil" namun begitu mengganjal ini.
Oke, lupakan. Itu hanya setting ga penting.
Sesungguhnya gue udah cukup lama pengen nulis tentang ini. Dari sekitar Oktober mungkin. Lalu distimulasi oleh komik yang gue baca baru-baru ini. Hanya saja rupanya itu belum cukup menggerakkan jari dan otak gue supaya bikin postingan.
Dan ternyata disinilah, setelah membaca postingan mba Rossa, dengan backsound lirih Vanilla Twilight-nya Owl City (yang mana juga ditularkan oleh mba Rossa), dan angin berhembus lembut...tiba-tiba mood itu menyapa dengan manisnya!!!
Haha,watta drama!
Oke, pertama gue pengen sedikit menceritakan garis besar komik stimulan yg gue singgung sebelumnya. Bambino! Yah, pada dasarnya gue memang pencinta manga. Dan entah sejak kapan ada ketertarikan khusus dengan manga berbau kuliner atau cooking. Sebelumnya ada Yakitate Japan yang konyol namun luar biasa itu.
Bambino is all about Italian cuisine, yeay! Shogo Ban, pemuda dari kota kecil Fukuoka, semenjak jatuh cinta dengan risotto buatan chef Susumu Shindo di Trattoria San Marzano, memutuskan untuk serius mempelajari masakan Italia di kedai itu.
Ban semakin mahir, namun itu saja tidak cukup, ketika ia sudah merasa nyaman dengan posisinya di Trattoria San Marzano, Pak Susumu justru mengirimnya untuk magang di Trattoria Baccanale. Rumah makan Italia milik sahabatnya yg sangat terkenal di Roppongi.

Ban yang mulanya besar kepala sangat terkejut tatkala masuk di cucina (dapur) Trattoria Baccanale. Cucina Baccanale adalah medan pertempuran, begitu kontras dengan cucina San Marzano yang tenang di desanya.
Ban terhempas ke posisi paling rendah, Bambino si anak baru yang masih mentah, belum ada apa-apanya.
Tapi yang namanya manga, tentu saja tokoh utama adalah tipe penuh semangat pantang menyerah, hehe. Yeah, itulah Ban. Dia membungkukkan tubuh dalam-dalam dan berkata "Mohon bantuannya", kepada Katori, seniornya yg galak. Ban menempa dirinya dengan keras namun tetap orisinil khas anak muda.
Kalau membaca komik ini dalam keadaan lapar siap-siap saja menelan ludah dan perut semakin keroncongan oleh sajian masakan Italia yg saaaaangat
menggoda
*yang sebelumnya ga lapar juga bakalan jadi lapar kayanya, wkwkwkw*. Tetsuji Sekiya sang mangaka begitu brilian memanjakan pembacanya dengan menggambarkan spageti udang dan rucola yg terhidang panas-panas, wanginya seafood dari pescatora, ataupun risotto yang empuk dan hangat. Delizioso! 

Oke, itu dia sekilas tentang manga yang bener-bener manyooss top markotop ini.
Lalu apa hubungannya dengan “sesuatu” yg mengganjal dari bulan Oktober itu?
Jadi begini, posisi gue pada saat ini kurang lebih adalah Bambino yang
terkaget-kaget dengan medan tempurnya. Gue terhempas ke dasar lubang gelap, silau oleh cahaya-cahaya di atas sana. Dan jika ditelusuri dari track record, gue ga terbiasa dengan posisi seperti ini. Ini satu contoh sederhananya, untuk tugas saja, gue yang dulu adalah suplier dan sekarang harus menerima kenyataannya sebagai konsumer yang bodoh. Yeah, I consider myself is the most stupid one here. 

Ga ada yang bisa dilakukan selain menerima kenyataan bahwa sesuatu yang bulat itu berputar dan bumi ini bulat, bukan? Bahwa gue sekarang lagi ada di posisi paling bawah. Bahwa gue harus berusaha keras demi menggerakkan roda ini supaya kembali ke posisi atas yang hangat oleh cahaya. Jadi gue akan 'membungkuk dalam-dalam' dan berkata, “Mohon bantuannya”.
Tapi yang namanya manga, tentu saja tokoh utama adalah tipe penuh semangat pantang menyerah, hehe. Yeah, itulah Ban. Dia membungkukkan tubuh dalam-dalam dan berkata "Mohon bantuannya", kepada Katori, seniornya yg galak. Ban menempa dirinya dengan keras namun tetap orisinil khas anak muda.
Kalau membaca komik ini dalam keadaan lapar siap-siap saja menelan ludah dan perut semakin keroncongan oleh sajian masakan Italia yg saaaaangat
menggoda Oke, itu dia sekilas tentang manga yang bener-bener manyooss top markotop ini.
Lalu apa hubungannya dengan “sesuatu” yg mengganjal dari bulan Oktober itu?
Jadi begini, posisi gue pada saat ini kurang lebih adalah Bambino yang
terkaget-kaget dengan medan tempurnya. Gue terhempas ke dasar lubang gelap, silau oleh cahaya-cahaya di atas sana. Dan jika ditelusuri dari track record, gue ga terbiasa dengan posisi seperti ini. Ini satu contoh sederhananya, untuk tugas saja, gue yang dulu adalah suplier dan sekarang harus menerima kenyataannya sebagai konsumer yang bodoh. Yeah, I consider myself is the most stupid one here. Ga ada yang bisa dilakukan selain menerima kenyataan bahwa sesuatu yang bulat itu berputar dan bumi ini bulat, bukan? Bahwa gue sekarang lagi ada di posisi paling bawah. Bahwa gue harus berusaha keras demi menggerakkan roda ini supaya kembali ke posisi atas yang hangat oleh cahaya. Jadi gue akan 'membungkuk dalam-dalam' dan berkata, “Mohon bantuannya”.
demi sebentuk P.A.S.S.I.O.N yang utuh.
I try!!!!!


1 comments:
Kayaknya kita sama-sama lagi terpuruk ya. Ayo saling menyemangati, semoga roda kehidupan kita bisa berputar kembali :)
Post a Comment